Kepurun Tempat Bersejarah

Cetak

MBKD KepurunDesa Kepurun, Kecamatan Manisrenggo yang merupakan desa dimana Bumi Perkemahan Pramuka Kepurun Klaten berada merupakan desa yang memiliki latar belakang sejarah perjuangan Bangsa Indonesia baik di masa penjajahan maupun di masa mempertahankan kemerdekaan RI.  Desa Kepurun yang terletak di kaki Gunung Merapi ini merupakan desa yang subur dengan sumber air yang bagus. Dengan masyarakatnya yang maju dan senantiasa menjunjung nilai perjuangan dan persatuan bangsa. Dari latar belakan sejarah perjuangan bangsa, kondisi lingkungan alam,  dan sosial kemasyarakatan ini maka dipilihlah Kepurun sebagai lokasi Bumi Perkemahan Pramuka.  

 Asal Usul Nama Desa Kepurun dan Kecamatan Manisrenggo

Pada masa perjuangan P.Diponegoro dengan para prajuritnya dalam mengusirPangeran Diponegoro penjajahan kolonial Belanda (tahun 1820-an), menggunakan taktik pertempuran gerilya. Pada suatu ketika pelarian dan persembunyian mereka sampai di tempat ini, dalam kondisi capai/ lelah mereka beristirahat di tepi sendang (sumber air). Mereka membasuh badan untuk menyegarkan badan dan bersuci/ wudhu. Sehingga mereka nampak kembali segar dan semangat. Sebagaimana ayam jantan yang kalah diadu kemudian dimandikan air agar segar dan berani kembali bertarung. Dalam kondisi demikian P. Diponegoro berusaha membakar semangat prajuritnya dengan mengatakan dalam Bahasa Jawa :”He sedulurku kabeh, isih purun  berjuang perang karo Londo !” (Hai Saudaraku semua, apa kalian masih bersedia berperang melawan Belanda!), Maka dengan semangat yang menggelora para prajurit  P. Diponegoro menjawab : “ Purun…!” (bersedia../ siap!). Dari peristiwa inilah kata “Purun” yang mengambarkan  semangat perlawanan terhadap penjajah menjadi cikal bakal nama desa “Kepurun”. Dan sendang yang digunakan untuk mandi/ membersihkan badan tadi dinamakan sendang “Kuwanen” dari kata “wani” atau keberanian/ semangat. Sendang ini sampai sekarang masih mengalir dan bersih airnya.   

Pada masa sekitar tahun 1582, konon di desa tersebut juga menjadi tempat peristirahatan para permaisuri jelita saat terjadi pertempuran hebat antara Kerajaan Pajang melawan Mataram. Permaisuri tersebut, singgah di sebuah renggo sejenis bangsal atau padepokan.

Lantaran kecantikan permaisuri itulah, banyak orang menyebut lokasi tersebut menjadi Manisrenggo, artinya renggo tempat permaisuri yang manis singgah. Ini adalah cerita masyarakat yang turun temurun, namanya saja asal usul, siapa saja boleh usul. Masalah kebenaranya perlu diteliti.


 Sejarah Kepurun Masa Awal Kemerdekaan

 AH NasutionDalam sejarah perjuangan bangsa. Desa Kepurun banyak menyimpan kenangan sejarah, yaitu pada masa Agresi Militer II Belanda. Aksi yang dilakukan Belanda dengan tujuan kembali merebut wilayah kekuasaan jajahannya. Aksi dimulai dengan menyerang Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta. Taktik yang digunakan Belanda dengan mengadakan serangan kilat atau Blitzkrieg.Berhasil menguasai Kota Yogya dan para pemimpin RI dapat ditangkap dan ditawan.

Menghadapi serangan Belanda, TNI menerapkan taktik Pertahanan Rakyat Semesta  yaitu perang gerilya secara total dengan cara menyebarkan kekuatan di seluruh wilayah yang disebut kantong-kantong perlawananan.

 Perintah Kilat no.1 tgl 12 Juni 1948 dari Jenderal Sudirman selaku Panglima Besar Angkatan Perang RI, sebagaimana tertulis pada prasasti di belakang monumen PARATA MBKD Kepurun berisi:

  1. Kita telah diserang
  2. Pada tanggal 19-12-1948 angkatan perang Belanda menyerang kotaYogyakarta dan lapangan terbang  Maguwo.
  3. Pemerintah Belanda telah membatalkan persetetujuan gencatan senjata.
  4. Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda.

 Akhirnya dibentuk struktur pemerintahan militer antara lain:·        

  1. Markas Besar Komando Djawa (MBKD) berpusat   di Kepurun, Manisrenggo, Klaten dibawah pimpinan Kolonel AH. Nasution
  2. Markas Besar Komando Sumatera (MBKS) berpusat di Medan, Sumatera Utara dipimpin Kolonel Hidayat

Yang bertugas melaksanakan pemerintahan militer dan merencanakan perlawanan bersenjata terhadap Belanda.

Perang rakyat semesta berencana dengan penuh kesadaran Nasional mulai digerakkan di seluruh Nusantara untuk mengusir kolonialis Belanda yang akan menjajah kembali Indonesia dengan menduduki ibu kota RI di Yogyakarta.


Sebagai salah satu tempat yang strategis Desa Kepurun dijadikan Markas Besar Komando Djawa (MBKD). Kolonel A.H.. Nasution singgah dan tinggal di rumah Kepala Desa Kepurun pada waktu itu.

Akhirnya pada 1 Maret  1949. Tentara Nasional  melancarkan Serangan Umum terhadap kolonialisme Belanda yang telah menguasai ibu kota RI di Yogyakarta. Dalam waktu sekitar 6 jam sampai pada siang hari, tentara Nasional Indonesia berhasil kembali menguasai Ibu Kota RI di Yogyakarta. Pada 29 Juni 1949 Perang rakyat semesta memaksa Kolonialis Belanda meninggalkan Indonesia secara berangsur-angsur dimulai dari Ibu kota RI Yogyakarta.

Jendral Besar AH NasutionJenderal Besar TNI Purn. Abdul Haris Nasution (lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918 , pernah menjabat sebagai Pandam Siliwangi (1946-1948), KSAD (1949-1952 dan 1955-1962), pernah menjadi Ketua MPRS (1966-1972),  dianugerahi sebagai Jenderal Besar pada tanggal 5 Oktober 1997. Wafat pada usia 81 tahun/ tanggal 6 September 2000.


Sumber :

  1. Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, http://www.javanologi.info
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Haris_Nasution
  3. Cerita Masyarakat Kepurun (Tri Widodo/ Kades Kepurun,  Surip Sunanto)